Menembus Kemacetan Metropolitan Zaman Now

Please follow and like us:

Konsep taksi udara sebenarnya bukan hal baru di Jakarta. Pada medio 1990-an beberapa maskapai charter pernah membuka layanan ini untuk beperian ke sekitaran Jabodetabek. Namun, saat krisis moneter melanda Indonesia di tahun 1997 layanan ini meredup.

Lima tahun belakangan ini, masyarakat kelas menengah makin banyak, pun dengan jumlah masyarakat kelas atas. Banyak orang kaya baru bermunculan, dari orang rumahan berubah jadi sosialita. Keadaan ekonomi yang baik pasti dibarengi dengan pertumbuhan jumlah kendaraan yang makin memadati jalan membuat kondisi lalu lintas makin runyam. Tak heran jika helikopter menjadi suatu hal yang lebih realistis, setidaknya bagi sebagian kalangan.

“Zaman sekarang, orang bisa dibilang kaya bukan karena ia pakai Voorijder (motor pengawal) buat menembus macet. Kalau pakai helikopter baru bisa dibilang kaya…” Demikian kira-kira obrolan santai dari dua orang pria di sebuah kedai kopi berlogo nyonya keriting di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan yang didengar oleh penulis di awal Januari lalu.

Konsep taksi udara juga bukan hal baru di Jakarta. Pada medio 1990-an beberapa maskapai charter pernah membuka layanan ini untuk beperian ke sekitaran Jabodetabek. Namun, saat krisis moneter melanda Indonesia di tahun 1997 layanan ini meredup. Selain Jakarta, Bali juga memiliki layanan serupa. Air Bali misalnya, maskapai charter yang berpusat di Bali ini memokuskan diri dalam penyewaan helikopter untuk kepentingan wisata. Selain di Bali, Air Bali juga memiliki paket wisata di Lombok, NTB hingga Papua.

Untuk sekadar melihat indahnya pantai di sekitaran Seminyak, penumpang harus merogoh kocek sekitar Rp1,9 juta dengan durasi terbang sekitar 15 menit. Atau jika ingin menikmati keindahan Pura Uluwatu dan sekitarnya, Air Bali mematok harga sekitar Rp 3,4 juta dengan durasi terbang 25 hingga 30 menit. Selain untuk kebutuhan wisata, Air Bali juga menyediakan layanan taksi udara yang mengantar pelanggannya ke beberapa tempat di Bali, di antaranya Bulgari Resort, New Kuta Golf Course  di Pecatu, The Stones Hotel, hingga ke Gili Trawangan.

Kembali ke Jakarta, maskapai yang sedang gencar memromosikan program taksi udaranya adalah Whitesky Aviation. Meski baru dibuka secara luas pada awal Desember 2017, sejatinya Whitesky sudah mulai menerima order pada momen mudik menjelang Idul Fitri tahun lalu. Saat itu, Whitesky mematok harga yang agak miring, sekitar Rp2,3 juta per orang untuk penerbangan ke Lapangan Wirotama, Bandung.

Semudah memesan Ojol

              Konsep yang diusung Whitesky memang cukup unik. Maskapai ini berinvestasi pada pengembangan aplikasi untuk sistem operasi Apple dan Android yang telah diluncurkan pada tanggal 4 Desember lalu. Jadi, calon penumpang tinggal mengunduh aplikasi tersebut dan meminta tempat penjemputan dan tujuan akhir mereka dalam satu aplikasi. Cara pemesanan ini semudah seperti kita memesan ojek online (Ojol). Selain lewat aplikasi, pelanggan juga bisa memesan taksi heli itu lewat situsweb resmi dan telepon.

Demi memanjakan para penumpangnya, Whitesky mengklaim bahwa maskapai tersebut merupakan salah satu maskapai charter yang memiliki helispot terbanyak. Jumlah helispot di sekitaran Jabodetabek dan Karawang mencapai 250 titik, di antaranya Halim Perdanakusuma, Waduk Pluit, ICE BSD, Jababeka, Lapangan D’Arcici, Senayan National Golf Club, Emerald Golf, dan rooftop atau elevate di Suryacipta Karawang, dan The Plaza Jakarta.

Untuk bisa menikmati layanan taksi udara ini, Whitesky mematok harga mulai dari Rp7 juta untuk penerbangan selama 15 menit. Sekilas memang terasa mahal, namun harga itu bisa dinikmati oleh empat hingga enam orang, tergantung kapasitas penumpangnya. Whitesky sendiri saat ini sudah menyiapkan empat helikopter, yakni satu unit Bell 429, dua unit Bell 505, dan satu unit Eurocopter EC130.

Whitesky nampaknya amat yakin dengan potensi pasar di bisnis taksi udara ini. Pasalnya, pada tahun 2016 lalu maskapai tersebut telah memesan 30 helikopter Bell 505 Jet Ranger X.

BOX:

Fungsi Unik Helikopter di Berbagai Belahan Dunia

Medevac

Layanan evakuasi medis lewat helikopter ini telah menjadi salah satu nilai jual rumah sakit dan perusahaan asuransi di negara-negara maju. Banyak video beredar yang memperlihatkan saat helikopter medis lepas landas dan mendarat di wilayah perumahan. Di Indonesia sendiri, salah satu perusahaan asuransi di bawah kelompok usaha Lippo gencar menawarkan fasilitas ini di paket asuransi kesehatan mereka.

Menggembala Ternak

Di Australia dan beberapa negara di Afrika menggunakan helikopter untuk menggembalakan hewan ternak mereka. Maklum saja, hewan ternak seperti sapi dan domba di sana dilepaskan di tengah perkebunan. Pemilik peternakan menggunakan helikopter-helikopter kecil seperti Robinson R22 atau CH-7 untuk menggiring sapi mereka ke dalam kendang atau mencari hewan ternak yang tersesat.

Heli Logging

              Industri kayu di Amerika Serikat, Selandia Baru, dan di negara-negara Skandinavia kerap menggunakan helikopter bertenaga besar untuk mengangkut kayu hasil penebangan. Cara ini dianggap lebih mudah dan lebih murah ketimbang jika kayu-kayu itu diangkut truk dari tengah hutan. Helikopter paling favorit untuk urusan pengangkutan kayu adalah Kamov Ka-32. Selain itu ada juga yang menggunakan helikopter Sirkosky S-64 dan Mi-8.

News Helicopter

Penggunaan helikopter untuk liputan dan siaran langsung televisi amat umum dilakukan oleh stasiun televisi di AS. Pilot dan kameramennya pun harus dilatih secara khusus agar tidak terlewat momen-momen penting. Walau saat ini fungsinya sudah bisa digantikan dengan drone, namun di AS sendiri posisi helikopter belum bisa digantikan lantaran pemerintah AS sangat membatasi penggunaan drone untuk kebutuhan sipil.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *