Indonesia Gelar Jambore Drone Pertama di Asia

Please follow and like us:

Menyambut hari jadi ke-46 Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), DJI Wook gelar Jambore Drone di Lapangan Mabes AU Aldiron, Pancoran, Jakarta, 2-3 Februari lalu. Acara ini dipersembahkan DJI Wook, salah satu importir drone merk DJI di Indonesia yang didukung Dinas Potensi Dirgantara (Dispotdirga) TNI AU dan FASI.

Jambore Drone yang digelar ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan di Asia dan sekaligus yang kedua dilaksanakan di dunia. Rekor dunia penyelenggaraan jamboree drone untuk pertama kalinya dipegang Austria.

Rangkaian acara dari Jambore Drone ini antara lain, kopi darat (kopdar) para pilot drone tanah air, DJI Games, aksi drone fixed wing atau aeromodelling, panggung hiburan, dan pameran static. Untuk DJI games terdiri dari dua nomor perlombaan, yakni drone challenge dan aerial photography.

Walaupun merupakan acara Perdana, namun antusias droner yang berasal dari berbagai provinsi di tanah air sangat besar. Dengan membuka booking fee pendaftaran seharga Rp 100 ribu, terbukti peserta DJI Games sangat membludak.

Untuk pertandingan drone challenge, peserta ditantang untuk mengangkat piramida dengan menggunakan drone mereka kemudian memindahkannya helipad. Selanjutnya peserta membuat figure 8 (membuat lintas seperti angka 8) lalu kemudian landing di tiap-tiap helipad yang disediakan.

Sedangkan untuk aerial photography, peserta ditantang untuk mampu mengambil gambar dengan passion dan style masing-masing. Tema yang diangkat untuk lomba foto ini adalah ‘Patung Dirgantara’. Foto yang memiliki nilai originalitas dan estetika terbaik yang akan keluar sebagai pemenang.

Pada pelaksanaan hari pertama, peserta yang antusias mengikuti dua nomor pertandingan pada Jambore Drone ini berjumlah 178 orang yang berasal dari 15 provinsi di Indonesia. Untuk nomor drone challenge diikuti oleh 108 peserta, sementara nomor aerial photography dimeriahkan oleh 70 peserta.

Meski peserta dari pulau Jawa jumlahnya mendominasi, namun Koordinator Lapangan acara, Aji Sophian menyebutkan bahwa antusias peserta yang berasal dari daerah lainnya juga sangat banyak. “Jadi benar-benar ini pesertanya banyak banget, ada yang dari Jakarta, Bandung, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTB, Sumatera,” ujarnya kepada Tim Tabloid Dirgantara, Jum’at (2/2/2018).

Namun memasuki pelaksanaan hari kedua, para droner tanah air makin menggeliat. Frans Saragih, Product Trainer DJI Wook mengungkapkan bahwa peserta DJI Games, khususnya aerial photography meningkat pesertanya.

“Yang mengikuti drone challenge ada 108 orang, lomba foto 130 orang. Hari ini nambah lagi untuk yang lomba foto, karena kemarin mereka enggak bisa hadir,” jelasnya, Sabtu (3/2/2018).

Ada beberapa kriteria drone yang digunakan dalam pertandingan di acara Jambore Drone ini, yakni DJI Phantom 4 Pro, DJI Phantom 4 Advanced, DJI Phantom 3 Professional, DJI Mavic Professional, dan DJI Spark.

Untuk para pemenang pertandingan drone challenge, panitia memberikan hadiah yang menarik. Juara I mendapatkan hadiah drone DJI Phantom 4 Pro, juara II mendapatkan drone DJI Phantom 4 dan juara III mendapatkan drone DJI Spark Single. Untuk pertandingan aerial photography, juara I mendapatkan hadiah drone DJI Spark Single, juara II mendapatkan Dobby Drone, dan juara III mendapatkan Osmo Mobile

Berkembang Pesat

Perkembangan populasi drone di Indonesia semakin banyak. Itulah yang melatarbelakangi Perwakilan DJI Indonesia, Irwan Saputra yang juga selaku pelaku usaha atau importir drone DJI di Indonesia membutuhkan bimbingan dari Dispotdirga untuk bisa membantu mereka merangkul semua pilot drone di Indonesia.

Dilaksanakannya Jambore Drone ini tentunya memiliki beberapa tujuan. Pertama, DJI Wook dan FASI bersama-sama ingin mewadahi komunitas drone yang ada di tanah air agar bisa terbang lebih safety dan membangun rasa kekeluargaan antar sesama. Kedua, melalui acara ini DJI Wook ingin mencari pilot-pilot drone yang memiliki ketangkasan dan ketelitian dalam mengendalikan drone. Dengan begitu, akan lahir para professional yang piawai dalam hal aerial photography.

“Berkat dukungan dari semua pihak, termasuk dari Mabes TNI AU, akhirnya acara ini dapat terlaksana. Belum dapat dikatakan sempurna, masih banyak kekurangan,” ungkapnya.

Namun demikian, ia selaku panitia merasa sangat puas dengan pencapaian perdana ini. Para peserta yang berasal dari belahan daratan nusantarapun terlihat sangat antusias mengikuti perlombaan drone yang digelar DJI Wook ini.

Dalam kesempatan yang berbeda Kepala Dinas Potensi Dirgantara (Kadispordirga) Marsma TNI Hari Budianto mengungkapkan bahw pertumbuhan drone di Indonesia sangat luat biasa. Dalam kurun waktu dua tahun angka populasi drone hampir mencapai 500 ribu.

Sementara itu, Asisten Potensi Dirgantara Kepala Staf Angkatan Udara (Aspotdirga KSAU) Marsda TNI Agus Munandar mengatakan dalam sambutannya bahwa olahraga dirgantara ini dilaksanakan sebagai cara mendekatkan diri kepada masyarakat.

“Kegiatan ini juga untuk mengetahui atau membanggakan peminat olah raga dirgantara untuk umum,” kata Agus sesaat membuka perlombaan drone tersebut.

Pertandingan Drone Internasional di Indonesia

Di damping Plt Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Hariyanto, Kadispordirga mengutarakan bahwa atas bantuan dari Kementerian Pariwisata, ke depan Dispotdirga bersama FAI (Fédération Aéronautique Internationale) akan mengadakan pertandingan drone internasional di Indonesia. Karena menurutnya, pertandingan drone ini baru pertama kali dilaksanakan di Asia.

“Alhamdulillah wa syukurillah pada kesempatan ini saya dapat membuka DJI Games, pertandingan drone nasional dan ini baru pertama kali di Asia, sekaligus mensiarkan terkait wisata dirgantara,” ungkap Kadispordirga kepada Redaksi Tabloid Dirgantara usai membuka acara Jambore Drone HUT ke-46 FASI, Jum’at (2/2/2018).

“Saya batasi (pesertanya) karena kalau tidak dibatasi nanti bisa berhari-hari pelaksanaannya. Ini pelaksanaannya hanya dua hari, nanti ke depan di bulan April mungkin saya kasih waktu empat hari,” jelasnya.

Ia berharap komunitas pengguna drone ini bisa terwadahi dengan baik dan menginginkan acara serupa dapat rutin diadakan minimal dua kali dalam setahun. “Karena sekali lagi, ini untuk memasarkan dirgantara kita, barang kali kalau kejuaraan internasional diadakan kan pariwisata meningkat,” imbuhnya.

Ia pun berharap agar drone dapat digunakan dengan sebaik-baiknya oleh para penggunanya. Itulah sebab mengapa komunitas ini ia bentuk bersama Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).

“Tujuannya untuk itu, selain untuk pariwisata, untuk olaharaga dan mengakrabkan sesama droner-droner di Indonesia. Acara ini tujuannya untuk mempersatukan olahraga drone yang kira-kira baru dua tahun, karena perkembangan drone ini di Indonesia sangat masif sekali,” tandasnya.

Pada kesempatan yang berbeda, Wakil Sekjen I FASI Chepy Nasution mengatakan bahwa memang baru beberapa kali dilakukan acara seperti ini. Ia menilai hal ini begitu sangat penting karena bisa memajukan kegiatan olahraga drone di Indonesia.

“Sekarang drone itu dibina oleh FASI sebagai organisasi olahraga dan juga mengkontrol kegiatan aero sport di Indonesia. Karena FAI itu juga telah memulai meng-adopt drone menjadi salah satu kegiatan yang dipertandingkan di dalam federasi aero sport internasional.

Ia juga meyakini bahwa olahraga drone akan terus tumbuh dan berkembangdi Indonesia. “Kalau saya lihat tahun 2016, itu belum banyak apa-apa. Sekarang kan diberikan regulasi, dalam arti ini (drone) akan menjadi alat yang berbahaya, makanya kita awasi,” jelasnya.

Sebagai catatan, Chepy yang juga menjabat sebagai Vice President FAI mengungkapkan bahwa Indonesia (FASI) telah menjadi ‘The strongest air sport organization in Asia’ sejak dua tahun lalu.

“Mereka mengakui itu, karena kita di-support oleh TNI AU. Enggak ada negara lain yang didukung oleh militernya, satu-satunya di dunia cuma di Indonesia,” pungkasnya.

Purnawirawan Pun Antusias

Dalam perlombaan aerial photography di Jambore Drone ini, terdapat juga purnawirawan Polri yang sangat antusias terhadap acara ini. Ia adalah Brigjen Pol (pur) Agus Salim Bakrie (64), mantan Direktur Bindik Lemdiklat Polri.

Ia yang telah lama senang dengan dunia fotografi ini mengaku bahwa ketertarikannya terhadap drone muncul sejak tiga tahun yang lalu.

Menurutnya lulusan AKPOL angkatan 77 ini, dengan menggunakan drone sebagai alat fotografi akan lebih mampu menjangkau lokasi yang lebih luas dan lebih baik.

Soal persiapannya dalam menggikuti lomba foto udara di Jambore Drone ini, ia menyebutkan bahwa dirinya membutuhkan waktu satu minggu untuk latihan.  Untuk melawan 130 pesaing lainnya yang datang dari 15 provinsi di Indonesia, drone yang ia gunakan adalah DJI Mavic Pro.

“Persiapannya saya mulai hanya satu minggu, mencoba (melakukan manuver) angka delapan (figure 8), tapi kelihatannya tadi nabrak. Tapi kalu foto nanti kita akan coba, mudah-mudahan fotonya yang di Patung Dirgantara itu bisa bagus,” paparnya, kepada Tabloid Dirgantara, Jum’at (2/2/2018).

Ia pun mengutarakan kesulitan dalam mengikuti perlombaan ini, salah satu fakto kesulitannya adalah lantaran kurangnya latihan yang dilakukan. Selain itu, ia juga mengungkapkan harapannya atas penyelenggaraan Jambore Drone ini.

“Harapannya dengan adanya perlombaan ini, mudah-mudahan ini memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia dan tentunya memberikan sesuatu yang lebih baik untuk bangsa dan negara,” tutupnya.

 

BOX:


Pemenang Drone Challenge

Juara I                 Irwan (034)

Juara II                M. Rifky Akmal (095)

Juara III               Krispatje (029)

Juara IV               Gunadarma (058)

Pemenang Aerial Photo Contest

Juara I                 Lukman Nurhakim (027)

Juara II                Hadyan Yoga Pratama (035)

Juara III               Oke Rosgana (039)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *