Bell 47, Sang Penyelamat Nyawa

Please follow and like us:

Helikopter, sebuah alat transportasi udara yang digagas pertama kali oleh Leonardo da Vinci ratusan tahun silam. Berbekal kemampuannya melakukan hovering di udara, membuat helicopter menjadi salah satu bagian terpenting dalam perkembangan sejarah transportasi udara. Kemampuan inilah yang membuat militer tertarik menggunakan helicopter sebagai salah satu alat utama system senjata.

Penggunaan helicopter dalam pertempuran pertama kali digagas oleh Amerika Serikat dalam perang Korea pada tahun50-an. Lalu berkembang pesat pada perang Vietnam, dimana helicopter lebih sering digunakan untuk mengantar pasukan ke garis depan pertempuran. Tidak ketinggalan dengan TNI AU sebagai garda terdepan pertahanan udara Indonesia, TNI AU sebagai matra pengguna utama helicopter dalam rangka mempertahankan wilayah Indonesia.

Melatih kesiapan awak dan kru helicopter sangat dibutuhkan untuk menjaga kesiapan serta kemampuan para kru beserta awak, salah satu helicopter latih yang digunakan TNI AU  adalah Bell 47G-3B-1 Sioux yang memiliki bentuk sangat unik. Telah dioperasikan oleh TNI AU sejak decade 70-an.  Heli ini menjadi saksi ketangguhan serta keuletan awak TNI AU, berlatih menjadi penerbang helicopter yang disegani.

Bell 47G Sioux tergolong dalam helicopter ringan, yang dirancang oleh Bell Helicopter pada tahun 1945. Dirancang untuk mengisi kebutuhan angkatan darat Amerika, Bell 47G Sioux terbang perdana pada 9 Maret 1965. Selain digunakan oleh militer Sioux digunakan oleh penerbangan sipil sebagai alat transportasi, fotografi udara dan pelatihan.

Di Indonesia di Sebut Soloy

      Di Indonesia helicopter Bell 47G Sioux lebih dikenal dengan sebutan Soloy, tercatat pada tahun 1957 TNI AU sudah mempergunakan heli tersebut untuk mendukung kegiatan VIP sebanyak 4 unit. Pesawat tersebut dioperasikan oleh Skadron 6,  lalu pada tahun 1987 untuk kebutuhan heli latih. TNI AU mendatangkan kembali heli Sioux lewat hibah dari Australia sebanyak 12 unit, di Australia Sioux diguanakn untuk mendukung operasi tempur di Vietnam.

Namun TNI AU menggunakan Sioux untuk kebutuhan angkut ringan serba guna, dan latih di Skadron Udara 7 Angkut Khusus yang bermarkas di Lanud Atang Senjaya. Sebagai satuan yang bertugas untuk mendidik para calon awak pesawat helicopter. KASAU TNI Ashadi Tjahyadi yang meresmikan  siox menjadi helicopter latih TNI AU pada 29 Juli 1978.

Untuk mempersiapkan Sioux menjadi heli latih, TNI AU mengirimkan 24 anggota skadron udara 7 dan skatek 024 wing operasi ke Australia yang dipimpin oleh Mayor Pnb Kosar. Para anggota TNI AU tersebut berlatih selama seminggu, untuk mempersiapkan teknik dan kemampuan merawat Sioux.

Pada perkembangannya Sioux mengalami beberapa perubahan dan modifikasi, skadron teknik 016 ditugaskan untuk memodifikasi meliputi penggantian mesin turbin, dan meningkatkan daya jelajah serta mengurangi konsumsi bahan bakar. Modifikasi ini membuat Sioux menjadi meningkat kemampuannya sehingga mendapat nama baru yaitu Soloy.

Sioux Awal dari Chopper

       Sejarah helicopter Sioux berawal dari ide Arthur Young dan asistennya Bartram Kelley yang memiliki ide membangun helicopter serbaguna pada November 1941. Arthur merayu Bell Aircraft agar mau membiayai pembangunan purwarupa dari helicopter ciptaanya yang disebut Model 30. Melalui serangkaian uji coba Arthur berhasil menerbangkan prototype heli ciptaanya pada April 1945.

Memiliki dua bilah baling baling pada bagian rotor atas, kokpit yang dilengkapi dengan dua tempat duduk dan buble canopy yang terbuat dari plastik membuat model 30 menjadi tonggak sejarah bagi perusahaan Bell dan diberi kode desain 47.

Di Negara asalnya Amerika, helicopter lebih dikenal dengan sebutan Chopper, nama tersebut didapat dari kejadian yang sangat unik. Bell 47  ketika dihidupkan mesinnya membuat dua bilah rotor pada bagian atasnya mengeluarkan bunyi “chop-chop” sehingga para teknisi di beli menyebutnya chopper. Penyebutan ini dikenal luas pada awal 1950-an, dan dipopulerkan oleh para tentara yang bertugas di perang Korea.

Sioux Last Deploy

        US Army atau kemudian berubah nama menjadi US Air Forces, pertama kali mengadopsi Sioux menjadi helicopter tempur pada 1948, dan memberi nama atau kode H-13. Sudah menjadi tradisi Angkatan Darat Amerika selalu member nama suku Indian pada helicopter tempur miliknya, dan memilih nama Sioux untuk disematkan pada Bell-47.

Keunggulan dari Sioux adalah kemampuan terbang yang sangat cepat, membuat heli ini sangat cocok untuk digunakan sebagai heli observasi dan medevac atau heli penyelamat. Para tentara yang terluka pada perang Korea diangkut menggunakan Sioux, kemampuang angkut Sioux terhitung cukup lumayan untuk kategori heli angkut ringan.

Daya angkut yang terbatas membuat US Army memikirkan untuk menggantikan peran Sioux sebagai heli angkut medis, saat itu Bell telah mempersiapkan kandidat pengganti Sioux yaitu, Bell Model 204, HU-1A atau dikenal dengan sebutan Huey. Kelahiran heli tersebut membuat Sioux tersingkir dengan cepat di awal perang Vietnam.

Tersingkir sebagai heli medis tidak membuat nasib Sioux di penghujung jurang, Sioux atau Bell 47 tercatat sebagai salah satu heli paling sukses, lebih dari 5.000 unit telah dibuat, dan sejumlah perusahaan melisensi seperti, Agusta dan Kawasaki menikmati gurihnya penjualan Sioux untuk kebutuhan sipil dan militer. Sioux sempat tampil dalam beberapa film televisi dan layar lebar, seperti dalam serial MASH (Mobile Army Surgical Hospital) dan film layar lebar Batman Robin.

Ketangguhan Sioux

Dengan konsep heli ringan membuat Sioux sangat mudah digunakan untuk beragam misi bagi kebutuhan sipil dan militer. Tercatat kurang lebih 20 jenis varian dan lebih dari 40 negara mempercayakan Sioux sebagai tulang punggung armada helicopter, semua berawal dari desain yang dirancang sangat simple.

Jika melihat bentuk dari Sioux sebagian dari kita akan meremehkan heli ini, karena terlihat sangat ringkih. Namun tunggu dulu, Sioux  memang dirancang untuk terbang dengan kecepatan tinggi dan lincah. Pada varian awal kokpit Sioux sengaja dibiarkan terbuka dan memiliki empat roda pendarat, sedangkan pada varian 47G yang diperkenalkan pada 1953, Sioux dilengkapi dengan bubble canopy untuk memudahkan pilot melihat kearah luar.

Salah satu cirri khas dari Sioux adalah tail boom yang dibiarkan terbuka tanpa lapisan pelindung apapun, tail boom dibuat dengan metode las. Sioux memiliki kapasitas angkut mencapai 1,3 ton, kemampuan angkut ini didapat dari mesin Lycoming TVO-435-F1A, selain itu mesin tersebut membuat Sioux mampu terbang  dengan kecepatan hingga 169km/perjam.

Walaupun kini Sioux sudah pensiun dari militer Amerika dan TNI AU, kelahiran Sioux memjadi pembuka jalan bagi pengembangan helicopter selanjutnya, bahkan Sioux menjadi basis pengembangan heli angkut ringan OH-58 Kiowa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *