Algojo Udara Jerman Berhasil Bukukan 352 Kill di Udara

Please follow and like us:

Erich “Bubi” Hartmann

Berhasil menembak jatuh pesawat pesawat lawan di udara sebanyak 352 adalah prestasi tertinggi di dunia yang berhasil diukir oleh pilot AU Nazi Jerman, Erich Hartmann.

Dalam duel di udara seorang pilot tempur yang berhasil merontokkan pesawat lawan lalu pulang dalam keadaan hidup untuk bisa menceritakan pengalamannya sudah merupakan prestasi tersendiri sekaligus menjadi kisah luar biasa. Tapi seorang pilot tempur yang berhasil merontokkan pesawat lawan dalam jumlah puluhan bahkan ratusan dan sekaligus bisa pulang untuk menceritakan pengalaman hebatnya, benar-benar lebih dari luar biasa.

Selama Perang Dunia II Angkatan Udara Nazi  Jerman (Lutfwaffe) dikenal memiliki pilot-pilot tempur tangguh dan memiliki prestasi luar biasa karena  mampu merontokkan puluhan hingga ratusan pesawat musuh. Ketangguhan pilot-pilot Jerman bahkan berada di atas kemampuan para pilot Sekutu maupun Uni Soviet (Rusia), walaupun dalam dogfight pilot-pilot Jerman kadang-kadang hanya menggunakan pesawat yang teknologinya  di bawah kualitas pesawat-pesawat lawannya .

Kendati dalam PD II  Nazi Jerman akhirnya kalah, peringkat ace untuk para pilot Jerman tetap berada di urutan teratas dan nama-nama pilot yang legendaris itu tetap tersohor hingga saat ini. Salah satu pilot tempur yang paling jago di antara yang terjago, the ace of aces adalah Erich Alfred “Bubi” Hartmann. Pilot muda Luftwaffe yang biasa bertempur dengan “pesawat pembawa kematian” tipe Messerschmitt iu, selama bertarung di udara telah  berhasil merontokkan 352 pesawat musuh.

Kepiawaian Erich berlaga di udara  memang sudah terlihat sejak kecil. Semasa remaja, Erich  yang lahir di Weissch, 19 April 1922 itu dan hobi olahraga dirgantara sudah biasa menerbangkan pesawat sport jenis glider, pesawat tanpa mesin yang pada era terkini dimanfatkan untuk kegiatan olahraga terbang layang. Olah raga terbang layang di Jerman pada era itu memang sedang marak dan secara tak sengaja telah menciptakan bibit-bibit pilot tempur berkualaitas.

Bakatnya makin berkembang ketika Erich bergabung dengan Luftwaffe dan ditempatkan pada skadron tempur Jagdgesschader 52 (JG-52). Gelar ace diperoleh Erich November 1942 ketika Jerman mulai memperluas perang ke fron Eropa Timur (Operation Barbarossa). Untuk pertama kalinya, Erich yang bertempur penuh semangat menggunakan pesawat Messerschmitt Me-109 “Black Tulip”, berhasil menembak jatuh sebuah pesawat Soviet. Dalam jarak kurang tiga bulan kemudian, pesawat tempur kedua berhasil dirontokkan Erich. Berkat prestasi gemilangnya itu pelan-pelan namanya mulai mendapat perhatian Luftwaffe.

Taktik gerilya udara

Selama enam bulan berikutnya, hingga memasuki pertengahan tahun 1943, Erich terus mengasah taktik tempurnya dan pesawat-pesawat musuh pun makin banyak yang dirontokkan. Taktik Erich cukup sederhana dan menerapkan ala  perang gerilya udara, hit and run.  Biasanya Erich menembak jatuh pesawat musuh dari belakang dan memprioritaskan keselamatan wingman bukan malah dirinya. Padahal pesawat wingman dalam ajang duel udara seringkali dijadikan umpan. Caranya, wingman diperintahkan terbang rendah menuju bumi untuk memancing musuh mengejarnya. Lalu diam-diam Erich bermanuver dan membidik pesawat incaran dari belakang.

Setelah secara tiba-tiba wingman terbang melesat mendatar hampir menyentuh pucuk pohon (tree top) dan kemudian kabur barulah Erich beraksi. Posisi Erich yang sudah berada dalam jarak tembak segera menghujani pesawat incaran dengan senapan mesin  kaliber 13mm yang terpasang di kedua sayap dan kanon 20mm yang dipasang di atapnya. Karena posisi Erich di atas, pesawat musuh yang terkena tembakan saat menghujam jatuh bisa diamatinya secara gamblang. Usai merontokkan pesawat musuh Erich biasanya segera kembali ke pangkalan bersama timnya dan tak lupa mencatat jenis pesawat yang baru saja jadi korbannya.

Usai istirahat sejenak, Erich yang selalu memberikan salut kepada awak darat (ground crew) yang bertugas rutin merawat pesawat tempurnya, selanjutnya terbang lagi dan pasti berhasil memangsa pesawat lawan. Dalam sehari Erich bahkan pernah merontokkan tujuh pesawat musuh. Selain taktik, Erich yang dikenal sebagai petarung udara berbakat alami, ia juga dikenal memiliki ketajaman penglihatan, reaksi reflek, dan semangat tempur yang tinggi.

Selama berlaga di udara, Erich selalu memang  dalam keadaan tenang dan sabar. Ia lebih suka menembak jatuh pesawat musuh esok harinya daripada hari itu tapi resikonya besar dan bisa berakibat pada jatuhnya pesawat yang diterbangkannya. Kesabaran Erich itu mirip kesabaran seorang penembak jitu (sniper) yang bertempur di darat yang baru melepaskan tembakannya ke sasaran terpilih jika dirinya sendiri juga dalam kondisi terlindung dan aman.

Sejumlah faktor itulah yang mampu membuat Erich bertempur secara sempurna untuk tak pernah kalah. Ketenangan bagi Erich menjadi sangat berguna ketika ia harus melakukan pendaratan darurat atau melompat dari pesawat. Selama pertempuran Erich pernah mengalami crash landing 15 kali dan melompat (bail out) satu kali. Itu artinya pesawat yang diterbangkan Erich pernah tertembak jatuh sehingga terpaksa melaksanakan bail out. Namun ia selalu berhasil selamat (diehard) tanpa cedera meskipun pesawatnya  rusak berat.

Salah satu kisah tempur udara paling seru yang dialami Erich dan timnya adalah ketika Jerman menyerbu Kursk (Rusia). Kala itu Erich ditugaskan memberikan air cover bagi tank-tank Jerman yang tengah melaju di darat. Selain memberikan air cover, Erich juga bertugas menghadang pesawat-pesawat Soviet yang mampu menghancurkan tank, Il-2 Sturmovik. Pesawat berbadan besar dan memiliki sayap lebar dan panjang ini dipersenjatai kanon kembar kaliber 37mm di kedua sayapnya.

Erich dan timnya, Staffel 7 yang waktu menerbangkan JG-52 bergerak sejauh 14 km dari pergerakan tank sempat diberitahu ada empat pilot JG-52 yang tidak kembali. Rupanya pertahanan berupa parit dalam dan barisan meriam antipesawat yang disiapkan Soviet di samping berhasil menahan laju tank juga mampu merontokkan sejumlah JG-52.  Erich dan timnya segera diperintahkan untuk memberi bantuan.

Setelah pesawat Messrschmitt Me-109G10 disiagakan dan dalam kondisi siap tempur, Erich bersama timnya segera melesat pada ketinggian 1.300 m dan tak lama kemudian tampaklah konvoi pesawat tempur Soviet. Puluhan Il-2 itu rupanya sedang menuju ke arah posisi Jerman di Ugrim. Pesawat lapis baja spesialisasi penghancur tank yang bersenjata mematikan itu sebenarnya merupakan lawan yang berat bagi Me-109.

Secara kualitas dan kemampuan Me-109 jelas berada di bawah Il-2. Bermodal kepiawaian dan kecepatan pesawatnya, Erich memerintahkan timnya untuk segera menyerang. Erich sendiri menerbangkan pesawatnya secepat kilat turun ke bawah, persis berada di bawah konvoi Il-2. Sekonyong-konyong menyalipnya lalu memutar jungkir balik dan dalam sekejap posisi Erich sudah berada di belakang mereka. Gebrakan manuver salto yang dilakukan Erich langsung membuat konvoi pesawat Soviet terpana sekaligus  buyar dan gampang dibidik.

Dalam jarak 100 meter, Erich menembakkan kanon 20mm, disusul senapan mesin kembar 12mm selama satu setengah menit agar bisa menjebol lapisan baja yang menyelimuti Il-2. Salah satu mesin Il-2 yang diincar tampak terbakar dan meluncur jatuh. Ini merupakan tembakkan ace yang ke-22 bagi Erich. Tak lama kemudian angka itu sudah berubah. Pasalnya, Erich berhasil menembak lagi satu pesawat Il-2 telak di bagian radiator dan mengakibatkan mangsanya jatuh terbakar. Hari berikutnya, setelah bertempur dalam tiga sorti, penambahan angka ace Erich kembali melonjak setelah berhasil menembak lagi tujuh pesawat tempur Soviet.

Memasuki Agustus 1943, angka ace yang dikumpulkan Erich sudah mencapai 50 dan dalam sebulan kemudian angka itu bahkan mencapai 80. Berkat prestasi gemilangnya, Erich dipercaya memimpin Skadron 9/JG-52 dan mendapat penghargaan elite yang diberikan langsung oleh Hitler, Knight Cross. Prestasi pembantaian Erich dalam duel udara makin menggila karena pada akhir 1943, saat Jerman mulai terdesak lawan, pesawat yang berhasil dilibas Erich mencapai angka 148.

Erich yang beberapa kali melakukan pendaratan darurat dan pesawatnya rusak, namun selamat, terus berlaga bak malaikat maut. Maret 1944 korban yang berhasil dimangsa Erich mencapai 202 pesawat. Pada hari-hari menjelang usai perang, angka ace yang berhasil dicapai erich bahkan makin fantastis, 352.

Berkat prestasi gilang-gemilang itu Erich menjadi satu-satunya orang Jerman, bahkan satu-satunya orang di dunia yang paling banyak menjatuhkan pesawat musuh. Di Luftwaffe sendiri sudah ada empat orang yang berhasil merontokkan 250 pesawat musuh, tapi untuk angka 300 ke atas, hanya Erich yang mampu menyandangnya. Oleh karena itu, Erich yang kemudian mendapat penghargaan tertinggi dari Third Reich, The Knight’s Cross to the Iron Cross with Oak Leave, with Swords and Diamonds.

Saat menghadap Hitler di bunkernya untuk menerima penghargaan, Erich bahkan punya sikap sendiri. Sikap yang sebenarnya sangat berbahaya karena ia bisa ditembak mati para pengawal setia Hitler. Ia tak mau melepas pistolnya. Tapi karena prestasi dan penghargaan yang akan diterima Erich demikian luar biasa, dan merupakan  simbol kesetiaan total kepada Hitler, para pengawal Hitler tak bisa berbuat apa-apa.   Penghargaan tertinggi yang diberikan Jerman kepada Erich merupakan yang ke-27 dan 12 penghargaan serupa,  di antaranya  telah disandang oleh para pilot Luftwaffe.

Beberapa hari kemudian Erich menjelaskan kenapa dirinya nekat menyandang pistol sewaktu menghadap Hitler. Dalam protokolelar (aturan standar) seorang anggota militer yang menghadap pimpinan tertinggi memang dilarang menyandang senjata apapun karena akan membahayakan keselamatan pemimpin bersangkutan. Dalam situasi terkini pun seorang anggota militer dilarang keras menyandang senjata ketika menghadap presiden meskipun dirinya seorang berpangka jenderal.

Soal pistol yang harus disandang, bagi Erich, senjata itu melambangkan harga diri dan semangat juangnya. Ia memberi alasan, semua itu akan runtuh jika pistol yang disandangnya dilepas saat menghadap Hitler. Namun, berkat kehebatan dan prestasi gilang-gemilangnya, Erich tetap diperbolehkan menghadap Hitler, berseragam lengkap plus pistolnya.

Padahal, saat itu, Hitler baru saja lolos dari upaya pembunuhan dan pasukan SS pengawalnya memberlakukan peraturan sangat ketat. Setiap prajurit yang menghadap Hitler, meskipun perwira tinggi dilarang menyandang senjata. Akan tetapi aturan ketat itu tak berlaku bagi Erich mengingat ketika mendengar namanya saja orang sudah terkagum-kagum apalagi melihat langsung pahlawan besar Luftwaffe itu.

Ketika Jerman menjelang kalah perang, Erich sempat diperintahkan untuk menyerang sektor Inggris dan itu berarti merupakan serangan bunuh diri. Namun, perintah dari Luftwaffe itu ditolak dan mereka memilih untuk menyelamatkan rekan-rekan dan keluarganya di Skadron JG-52. Akhirnya Erich beserta rekan-rekannya menyerahkan diri kepada pasukan yang dianggap lebih bersahabat, AS. Pasalnya jika menyerahkan diri kepada pasukan Soviet, mereka bisa langsung dihukum mati mengingat dendam kesumat pasukan Soviet kepada Nazi Jerman demikian tinggi.

Namun pada bulan Mei 1945, pasukan AS menyerahkan para tawanan itu kepada yang lebih berhak, Pasukan Merah Soviet. Erich kemudian dikirim ke kamp kerja paksa, Siberia, selama lima tahun. Tapi kehebatannya sebagai pilot Luftwaffe tetap menjadi perhatian Soviet dan juga Jerman Timur maupun Jerman Barat.

Soviet sebenarnya sempat membujuk Erich agar mau melibatkan diri dalam pembangunan Angkatan Udara Jerman Timur. Bujukan yang disertai pemaksaan iu ditolak Erich mentah-mentah. Ia tetap bersikeras tak mau berkolaborasi dengan kroni Soviet kendati istri dan anaknya yang tinggal di Jerman Barat terancam dibunuh. Tahun 1956, nasib Erich berubah. Saat Jerman Barat dan Soviet berhasil membina hubungan diplomatik, Erich pun pulang kampung.

Pahlawan Luftwaffe itu akhirnya pulang kandang dan dengan suka rela bergabung dengan Angkatan Udara Jerman Barat yang baru saja dibentuk, Jagdgeschwader 71 Richthofen. Salah satu tugas Erich adalah sebagai instruktur pilot tempur.

Tahun 1959 ia mendapat pangkat komodor dan iu merupakan pangkat tertinggi pertama kalinya bagi Jagdgeschwader. Kiprahnya membangun AU Jerman Barat terus berkibar sampai usia pensiun (1977). Erich Hartmannn wafat dengan tenang pada tahun 1993. Namun, pengalaman dan prestasinya sebagai pilot Luftwaffe tetap meninggalkan peristiwa sejarah pertempuran udara yang luar biasa serta  decak kagum hingga kini.

 

Box:

Dijuluki Si Setan Hitam

Erich Hartmann, si algojo udara Jerman dengan rekor 352 kill, angka tertinggi di dunia, sampai dijuluki “Black Devil” atau setan hitam oleh para penerbang tempur Uni Soviet. Hal itu lantaran kepiawaiannya bertarung dan menciptakan taktik perang udara jarak dekat (dogfight) yang dapat mengecoh sekaligus mengantarkan nyawa musuh ke liang lahat. Di luar julukan setan hitam, Erich sebenarnya punya nickname atau nama sandi sebagai penerbang “Bubi” yang berarti “Kid” atau anak-anak. Entah apa alasannya ia memilih nama itu. Bisa jadi karena tampangnya imut seperti anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *