Dr. Elisa Manueke, S.pM Dokter Spesialis Mata RSPAU Juara Dunia Paralayang

Please follow and like us:

Mungkin terdengar agak kurang matching, dokter spesialis mata kok bisa dinobatkan sebagai juara dunia olahraga paralayang? Itulah realitas yang terjadi. Dan, hal ini merupakan tonggak sejarah bagi dunia olahraga kedirgantaraan Indonesia, khususnya Paralayang.

Predikat juara dunia Paralayang yang di sandang oleh Kolonel Kes dr. Elisa Manueke, SpM sekaligus mematahkan anggapan bahwa Slovenia adalah rajanya olahraga paralayang.

Untuk mempersiapkan Kontingen Merah-Putih, khususnya Cabang Olahraga Paralayang sebelum berlaga di ajang Asian Games 2018, Tim Pelatnas Paralayang FASI pun diikutsertakan dalam kejuaraan Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) 2017.

Kejuaraan PGAWC 2017 terbagi dalam empat sesi yang diselengaraakan di empat negara berbeda. Sekitar 23 orang dari atlet pelatnas Paralayang FASI ditambah tiga atlet non-pelatnas diikutsertakan memeriahkan kejuaraan dunia tersebut.

Pada seri pertama kejuaraan internasional untuk nomor ketepatan mendarat paralayang ini digelar di Manado, Sulawesi Utara, Indonesia pada 17-19 Maret 2017, diikuti oleh 83 atlet dari 11 negara.

Selanjutnya seri kedua dilaksanakan di Vrsac, Serbia, 7-9 April 2017 dengan jumlah peserta sebanyak 111 atlet dari 20 negara. Kemudian pada seri ketiga yang diselenggarakan di Mount Saint Pierre, Kanada, 20-23 Juli 2017 hanya diikuti oleh 40 atlet dari 8 negara.

Pada seri keempat sekaligus sesi final yang digelar di Kobarid, Slovenia, 21-23 September 2017, sebanyak 88 atlet dari 20 negara bertarung habis-habisan untuk mengharumkan nama negara masing-masing.

Pada sesi terakhir di Slovenia, dr. Elisa berhasil menyabet juara III kategori putra, sementara juara I dan II dipegang oleh Tomas Lednik dari Republik Ceko dan Goran Djurkovic dari Serbia. Pada kategori putri, juara I diraih Tomaskova Marketa dari Republik Ceko, juara II dipegang Lawrence Katie dari Germany, dan juara III disabet Lis Andriana dari Indonesia.

Dari kategori beregu, berturut-turut juara I, II dan III di raih oleh Serbia, Republik Ceko dan Indonesia. Sementara untuk akumulasi dari empat sesi pertandingan yang digelar mulai dari Manado, Serbia, Canada hingga Slovenia, para atlet Paralayang Indonesia berhasil menyapu bersih predikat terbaik, baik kategori perorangan maupun beregu.

Untuk kategori perorangan putra, juara I hingga III di sabet oleh dr. Elisa Manueke, Roni Pratama, dan Rio Indrakusumah. Sedangkan pada kategori perorangan putri, juara I sampai III diraih oleh Rika Wijayanti, Milawati Sirin, dan Ike Ayu Wulandari.

Untuk kategori tim, predikat terbaik I hingga III disandang oleh Garuda Prima 2, Garuda Prima 1, dan Garuda Prima 3. Secara umum, negara yang berprestasi sepanjang laga PGAWC 2017 adalah Indonesia di peringkat pertama, disusul oleh Republik Ceko, dan Kosovo di peringkat II dan III.

 

Tidak menyangka

              Ditanya mengenai pretasi besar yang diraihnya di tingkat dunia, dr. Elisa bahkan merasa ia masih berada di bawah kawan-kawannya. “Saya enggak hafal banget poin-poin yang saya raih di tiap sesinya. Tapi, total saya 23 cm dari empat sesi di empat negara. Terakhir saya masih berpikir bahwa saya masih di bawah kawan-kawan saya karena mereka nilainya kecil-kecil. Bagus-bagus mereka itu,” ujar dokter spesialis mata yang berdinas di RSPAU (Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara) dr. S. Hardjolukitp, Lanud Adisucipto, DI Yogyakarta.

Berdasarkan penilaian, dari empat kejuaran (ketepatan mendarat) ini poin yang paling kecil angkanya dialah yang juara. Dan ternyata saya, saya enggak menduga-duga. Alhamdulillah saya juara dunia putra,” tambah Wakil I Bidang Prestasi di FASI ini.

Untuk predikat juara terbaik putra dalam ajang PGAWC 2017 yang berskala internasional, merupakan momen pertama kalinya dalam sejarah olahraga Paralayang yang diraih atlet Pelatnas.

Untuk predikat yang sama pada kategori putri, pencapaian di PGAWC 2017 tersebut merupakan prestasi yang keenam kalinya di tingkat dunia. “Jadi sebenarnya kita hebat di kategori putri. Di kategori putra masih agak sulit,” imbuhnya.

Diakui oleh dr. Elisa, tantangan yang harus dihadapi selama pertandingan internasional tersebut, ia dan rekan-rekannya harus melawan tim-tim tangguh dari Slovenia dan Serbia. Predikat juara dunia memang selalu dikantongi kedua negara itu. Di samping itu masih ada Republik Ceko dan Kosovo yang juga menjadi lawan yang cukup tangguh.

Bukan hanya atlet-atlet negara lain yang menjadi tantangan, iklim dan cuaca pun menjadi lawan sejati yang harus dikalahkan. Diceritakan oleh dr. Elisa, walaupun seri pertama berlangsung di negeri sendiri, tapi termik yang cukup tinggi di Manado sempat membuatnya kesulitan untuk mengatasinya. Begitu juga ketika bertanding di Serbia, Kanada, dan Slovenia. Suhu yang rendah dan angin yang kencang juga sempat membuat dr. Elisa menggigil saat bertanding.

“Yang paling dingin kemarin di Serbia, sampai minus 10O C dan juga Kanada anginnya kenceng sekali dan mengerikan. Tempatnya curam, 500 meter langsung ke air. Ya, takut juga sebagai manusia di tempat-tempat yang mengerikan seperti itu,” aku dr. Elisa.

Sebelum mengakhkiri perjumpaannya dengan Tim Redaksi Tabliod Dirgantara, ia sempat mengatakan bahwa pada perhelatan Asian Games 2018 pada 18 Agustus hingga 2 September 2018, nomor ketepatan mendarat beregu putra dan putri harus menjadi nomor satu. “Kita ini sudah keliling dunia, mengikuti seri dunia dan kita di atas angin sekarang. Baru kali ini nama Indonesia di FAI Ranking Nation di atas. Dulu selalu Slovenia,” tandasnya.

Merupakan hal yang sudah sepantasnya jika Indonesia dinobatkan sebagai juara dunia di kejuaraan PGAWC 2017. Tim Indonesia selalu mengikuti seri-seri pertandingan yang ada dan bertarung dengan maksimal. Keberhasilan tim pelatnas Paralayang ini sekaligus merupakan operasi sapu bersih predikat juara-juara terbaik di ajang tersebut. Indonesia patut bangga dan memberikan apresiasi. Selamat!

 

BOX:

Overall Ranking PGAWC 2017


Overall

  1. Elisa Manueke, Indonesia
  2. Roni Pratama, Indonesia
  3. Rio Indrakusumah, Indonesia
  4. Thomas Widyananto, Indonesia
  5. Jafro Megawanto, Indonesia
  6. Aris Afriansyah, Indonesia
  7. Hening Paradigma, Indonesia
  8. Indra Lesmana , Indonesia
  9. Johny Effendy , Indonesia
  10. Ais Kurniawan, Indonesia

Female

  1. Rika Wijayanti, Indonesia
  2. Milawati Sirin, Indonesia
  3. Ike Ayu Wulandari, Indonesia
  4. Andriana Lis, Indonesia
  5. Diah Kristinai, Indonesia
  6. Nofrica Yanti, Indonesia
  7. Marketa Tomaskova, Czech Republic
  8. Eka Nesti Wulansari , Indonesia
  9. Katie Lawrence, United Kingdom
  10. Veronika Culkova, Czech Republic

Teams


  1. Garuda Prima 2, Indonesia
  2. Garuda Prima 1, Indonesia
  3. Garuda Prima 3, Indonesia
  4. Garuda Prima 4, Indonesia
  5. BDG Team, Slovenia
  6. No Name, Serbia
  7. Czech Team, Czech Republic
  8. Garuda Prima 5, Indonesia
  9. UP UK, United Kingdom
  10. Kosovo 1, Kosovo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *