Sapu Bersih Kejuaraan Dunia, Cabor Paralayang Optimis Raih Medali Emas di Asian Games

Please follow and like us:

“Tentunya kita tetap ingin meraih itu (medali emas). Program-program khusus sudah direncanakan oleh Ketua Cabang Olahraga dan saya akan mendorong untuk bisa terus berprestasi. Oleh karena itu, ke depan kami juga mencari bibit-bibit atlet supaya kita tetap berprestasi,” ungkap Marsekal TNI Hadi Tjahjanto saat dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Aero Sport Indonesia (PB FASI) Antar-waktu Masa Bakti 2014-2018, Senin (23/10/2017).

Berdasarkan hasil rapat pada Olympic Council of Asia Meeting di Incheon, Korea Selatan pada 19 September 2014 silam, Indonesia kemudian ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games ke-18. Menyambut baik konsensus tersebut, pemerintah Indonesia kemudian membentuk Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC ) untuk bertanggung jawab sebagai panitia pelaksana.

INASGOC bertugas untuk menyusun rencana, menyiapkan dan menyelenggarakan Asian Games 2018 yang akan digelar meriah pada 18 Agustus hingga 2 September 2018 mendatang. Penyelenggaraan Asian Games ke-18 ini akan berlangsung di empat provinsi, yakni Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi Banten.

Sejak tahun 2016 INASGOC berfokus untuk merampungkan revitalisasi berbagai lokasi pertandingan yang akan diadakan di empat Provinsi tersebut. INASGOC juga mulai merekrut sekitar 15.000 relawan untuk membantu pre-event dan main event Asian Games 2018.

Perhelatan multi-event olahraga internasional yang sudah semakin dekat ini akan dikuti tak kurang dari 45 negara yang akan berlaga di 47 cabang olahraga. Test event pun telah dilangsungkan pada 8-15 Februari lalu untuk mengukur ketangguhan sang atlet maupun lawan-lawan mereka.

Dalam test event tersebut ada delapan cabang olahraga yang dipertandingkan, yakni tiga cabang olahraga terukur, tiga cabang olahraga beladiri, dan dua cabang olahraga permainan. Tiga cabang olahraga terukur yaitu angkat besi, panahan, dan atletik. lalu tiga cabang olahraga beladiri terdiri dari taekwondo, pencak silat, dan tinju. Sedangkan dua cabang olahraga permainan adalah basket dan voli indoor.

Tujuan uatam digelarnya test event tersebut untuk menguji seberapa siap Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, dan elemen pendukung lainnya. Sebagai tuan rumah, test event ini juga bisa dijadikan tolak ukur sejauh mana persiapan para atlet untuk berlaga di Asian Games, mengingat kontingen Merah Putih dibebani target untuk meraih posisi lima besar di kejuaraan multi-event ini.

Bagaimana dengan paralayang sebagai tulang punggung olahraga dirgantara pada kejuaraan internasional tersebut?

Sejak akhir Juli hingga Agustus 2017, INASGOC telah menggelar tiga test event level Asia yang diikuti para calon atlet yang akan bertanding pada Asian Games 2018. Lebih dari 100 atlet yang mewakili hingga 23 negara berpartisipasi pada setiap test event yang mendapat pengawasan dari federasi olahraga Asia.

Untuk paralayang, sebagai test event di gelar Piala Asia Lintas Alam Paralayang II 2017 di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat, 11-14 Agustus. Saat perhelatan tersebut, 200 pilot dari 23 negera berbondong-bondong mendaftar ikut berpartisipasi. Namun panitia membatasi hanya 100 peserta dari 12 negara saja yang bisa ikut serta.

Selain itu, biasanya atlet paralayang Indonesia menggelar latihan di Puncak, Bogor; Bali dan Batu, Malang untuk porsi latihan ketepatan mendarat. Sedangkan untuk terbang jauh (cross country) mereka melakukan latihan di Australia (Desember 2017) dan ke depan di Nepal (April 2018) serta Perancis.

Sebelumnya, manajer Timnas Paralayang Wahyu Yudha mengatakan bahwa FASI akan terus mengasah kemampuan timnas paralayang untuk bisa meraih medali emas di kejuaraan multi-event ASIAN GAMES 2018 dengan target minimal 2 emas.

Tim paralayang FASI pada tahun lalu juga berhasil meraih juara umum dan juara perorangan dalam kejuaraan Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) 2017 yang final session-nya digelar di Slovenia, 21-23 September. Tim paralayang yang bertanding dalam PGAWC 2017 di Slovenia adalah Tim Pelatnas Paralayang yang dipersiapkan untuk mengikuti Asian Games 2018. Sekitar 23 orang dari atlet pelatnas ditambah 3 atlet nonpelatnas mengikuti kejuaraan dunia tersebut.

Patron olahraga paralayang Indonesia, Kolonel Kes dr. Elisa Manueke SpM yang telah dinobatkan sebagai juara dunia olahraga paralayang di nomor ketepatan mendarat (accuracy) dalam event PGAWC 2017 tersebut juga telah mempersiapkan diri untuk mengharumkan nama Indonesia di pesta olahraga internasional tingkat Asia, Asian Games 2018.

Untuk persiapan Asian Games 2018, Elisa mengungkapkan kepada Tabloid Dirgantara bahwa atlet paralayang yang masuk Pelatnas 2018 sudah dalam pemusatan pelatihan sejak awal tahun 2017. Mereka telah menjalani latihan rutin setiap bulan serta mengikuti kejuaraan-kejuaraan yang ada untuk meningkatkan daya tarung mereka dan menghindarkan mereka dari demam panggung.

Untuk cabang olahraga paralayang di Asian Games 2018 ada dua nomor perlombaan, yakni ketepatan mendarat (accuracy) dan lintas alam (cross country). Namun yang menjadi konsentrasi Indonesia untuk meraih medali emas pada perhelatan Asian Games kali ini terfokus di nomor ketepatan mendarat, baik beregu putra maupun beregu putri.

“Di Asian Games, nomor ketepatan mendarat beregu putra dan putri kita harus nomor satu. Kita ini sudah keliling dunia, ngikutin seri dunia dan kita di atas angin sekarang. Baru kali ini nama Indonesia di FAI (Fédération Aéronautique Internationale) Ranking Nation di atas, dulu selalu Slovenia,” ungkapnya beberapa waktu lalau.

Menurutnya, olahraga udara atau dirgantara itu memang beda dari yang lainnya, karena berhadapan dengan bahaya dan risiko yang besar. Oleh karena itu, olahraga dirgantara seperti paralayang harus penuh kematangan dan kedewasaan untuk mengambil sikap dan keputusan yang tepat ketika bertanding.

“Kami ini kan atlet Pelatnas, jadi latihannya sudah ada programnya setiap bulan sejak Februari 2017 dan mengikuti event-event kejuaraan, baik nasional maupun internasional. Terutama yang kejuaraan internasional ini untuk nomor ketepatan mendarat paralayang,” tutupnya.

Dokter Spesialis Mata RSPAU Dinobatkan Jadi Juara Dunia Paralayang

Mungkin terdengar agak kurang matching, dokter spesialis mata kok bisa dinobatkan sebagai juara dunia olahraga paralayang? Namun itulah realitas yang terjadi dan hal tersebut merupakan tonggak sejarah bagi dunia olahraga kedirgantaraan Indonesia, khususnya paralayang. Predikat yang di sandang Kolonel Kes dr. Elisa Manueke SpM tersebut seklaigus mematahkan anggapan dunia bahwa Slovenia adalah rajanya olahraga paralayang.

Untuk mempersiapkan Kontingen Merah-Putih, khususnya Cabang Olahraga Paralayang agar siap berlaga di kejuaraan multi-event Asian Games 2018, Tim Pelatnas Paralayang dari FASI diikutsertakan dalam kejuaraan Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) 2017. Kejuaraan PGAWC 2017 terbagi dalam empat sesi yang diselengaraakan di empat negara berbeda. Sekitar 23 orang dari atlet pelatnas ditambah 3 atlet nonpelatnas memeriahkan kejuaraan dunia tersebut.

Pada seri pertama kejuaraan internasional untuk nomor ketepatan mendarat paralayang ini digelar di Manado, Sulawesi Utara, 17-19 Maret 2017 dan diikuti oleh 83 atlet dari 11 negara. Selanjutnya seri kedua dilaksanakan di Vrsac, Serbia, 7-9 April 2017 dengan jumlah peserta sebanyak 111 atlet dari 20 negara.

Kemudian pada seri ketiga yang diselenggarakan di Mount Saint Pierre, Kanada, 20-23 Juli 2017 hanya diikuti oleh 40 atlet dari 8 negara. Pada seri keempat sekaligus sesi final yang digelar di Kobarid, Slovenia, 21-23 September 2017, sebanyak 88 atlet dari 20 negara bertarung habis-habisan untuk mengharumkan negara masing-masing.

Pada sesi terakhir di Slovenia, dr. Elisa berhasil menyabet juara III pada kategori putra, sementara juara I dan II dipegang oleh Tomas Lednik dari Republik Ceko dan Goran Djurkovic dari Serbia. Pada kategori putri, juara I diraih Tomaskova Marketa dari Republik Ceko, juara II dipegang Lawrence Katie dari Germany dan juara III disabet Lis Andriana dari Indonesia. Dari kategori beregu, berturut-turut juara I, II dan III di raih oleh Serbia, Republik Ceko dan Indonesia.

Sementara untuk akumulasi dari empat sesi pertandingan yang digelar mulai dari Manado, Serbia, Canada hingga Slovenia, para atlet paralayang Indonesia berhasil menyapu bersih predikat terbaik, baik kategori perorangan maupun beregu.

Untuk kategori perorangan putra, juara I hingga III di sabet oleh dr. Elisa Manueke, Roni Pratama dan Rio Indrakusumah. Sedangkan pada kategori perorangan putri, juara I sampai III diraih oleh Rika Wijayanti, Milawati Sirin dan Ike Ayu Wulandari. Sementara untuk kategori tim, predikat terbaik I hingga III disandang oleh Garuda Prima 2, Garuda Prima 1 dan Garuda Prima 3. Secara umum, negara yang berprestasi sepanjang laga PGAWC 2017 adalah Indonesia di peringkat pertama, kemudian disusul oleh Republik Ceko dan Kosovo di peringkat II dan III.

“Saya enggak hafal banget poin-poin yang saya raih di tiap sesinya, tapi total saya 23 cm dari empat sesi di empat negara. Terakhir saya masih berpikir bahwa saya masih di bawah kawan-kawan saya karena mereka nilainya kecil-kecil, bagus-bagus mereka,” ingatnya.

Merupakan hal yang wajar jika Indonesia dinobatkan sebagai juara dunia di kejuaraan PGAWC 2017, karena Indonesia mengikuti seri-seri pertandingan yang ada dan bertarung dengan maksimal. Keberhasilan tim pelatnas paralayang Indonesia melakukan operasi sapu bersih predikat juara-juara terbaik di ajang tersebut tentunya juga perlu mendapat apresiasi yang besar.

Keberhasilan dokter spesialis mata yang berdinas di RSPAU Lanud Adisucipto, DI Yogyakarta ini dalam ajang PGAWC 2017 memang sangat mengejutkan. Ia mengaku awalnya merasa heran dan tidak percaya dengan prestasinya tersebut, karena poin yang ia raih selalu berada di bayang-bayang rekannya yang lain walau jaraknya tak begitu jauh.

“Dari empat kejuaran (ketepatan mendarat) ini, dilihat dari nilai poin yang paling kecil dialah yang juara. Dan ternyata saya, saya enggak menduga-duga. Alhamdulillah saya juara dunia putra,” ungkapnya yang juga menjabat sebagai Wakil I Bidang Prestasi di FASI.

Untuk predikat juara terbaik putra dalam ajang PGAWC 2017 yang berskala internasional ini merupakan momen pentama kalinya dalam sejarah olahraga paralayang yang diraih atlet Pelatnas. Untuk predikat yang sama pada kategori putri, pencapaian di PGAWC 2017 tersebut merupakan prestasi yang keenam kalinya di tingkat dunia. “Jadi kita memang hebat di kategori putri, di putra memang agak sulit,” imbuh dr. Elisa.

Diakui oleh dr. Elisa, tantangan yang harus dihadapi selama pertandingan internasional tersebut ia dan rekan-rekannya harus melawan tim-tim tangguh dari Slovenia dan Serbia, karena predikat juara dunia selalu kedua negara itu yang mengantongi. Di samping itu masih ada Republik Ceko dan Kosovo yang juga menjadi lawan yang cukup tangguh.

Bukan hanya atlet-atlet negara lain yang menjadi tantangan, iklim dan cuaca pun menjadi lawan sejati yang harus dikalahkan. Diceritakan oleh dr. Elisa, walaupun seri pertama berlangsung di negeri sendiri, tapi termik yang cukup tinggi di Manado sempat membuatnya kesulitan untuk mengatasinya. Begitu juga ketika bertanding di Serbia, Kanada dan Slovenia, suhu yang rendah dan angin yang kencang juga sempat membuat dr. Elisa menggigil saat bertanding.

“Yang paling dingin kemarin di Serbia, sampai minus 10O C dan juga Kanada anginnya kenceng sekali dan mengerikan. Tempatnya curam, 500 meter langsung ke air. Ya takut juga sebagai manusia di tempat-tempat yang mengerikan seperti itu,” aku dr. Elisa.

Sebelum mengakhkiri perjumpaannya dengan Tim Redaksi Tabliod Dirgantara, ia sempat mengatakan bahwa pada perhelatan Asian Games 2018 yang direncanakan akan berlangsung pada 18 Agustus hingga 2 September 2018, nomor ketepatan mendarat beregu putra dan putri kita harus nomor satu. “Kita ini sudah keliling dunia, ngikutin seri dunia dan kita di atas angin sekarang. Baru kali ini nama Indonesia di FAI Ranking Nation di atas, dulu selalu Slovenia,” tandasnya.

Overall Ranking PGAWC 2017

Overall

  1. Elisa Manueke, Indonesia
  2. Roni Pratama, Indonesia
  3. Rio Indrakusumah, Indonesia
  4. Thomas Widyananto, Indonesia
  5. Jafro Megawanto, Indonesia
  6. Aris Afriansyah, Indonesia
  7. Hening Paradigma, Indonesia
  8. Indra Lesmana , Indonesia
  9. Johny Effendy , Indonesia
  10. Ais Kurniawan, Indonesia

Female

  1. Rika Wijayanti, Indonesia
  2. Milawati Sirin, Indonesia
  3. Ike Ayu Wulandari, Indonesia
  4. Andriana Lis, Indonesia
  5. Diah Kristinai, Indonesia
  6. Nofrica Yanti, Indonesia
  7. Marketa Tomaskova, Czech Republic
  8. Eka Nesti Wulansari , Indonesia
  9. Katie Lawrence, United Kingdom
  10. Veronika Culkova, Czech Republic

Teams

  1. Garuda Prima 2, Indonesia
  2. Garuda Prima 1, Indonesia
  3. Garuda Prima 3, Indonesia
  4. Garuda Prima 4, Indonesia
  5. BDG Team, Slovenia
  6. No Name, Serbia
  7. Czech Team, Czech Republic
  8. Garuda Prima 5, Indonesia
  9. UP UK, United Kingdom
  10. Kosovo 1, Kosovo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *