Apakah yang dimaksud dengan Virtual Cockpit seperti pada pesawat F-35 itu?

Please follow and like us:

Deny Mahendra – Jakarta

Kokpit pesawat tempur adalah salah satu tempat kerja paling kompleks di dunia. Jika kita membutuhkan beberapa perabot dan peralatan baru agar bisa bekerja dengan lebih efektif, demikian juga halnya dengan pilot pesawat tempur. Karena sesungguhnya, penerbang yang menerbangkan pesawat tempur seperti F-16, MiG-29, Su-27, atau Tornado pada dasarnya, bekerja di kokpit era 1970-an saat pesawat tersebut awalnya dirancang .

Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun sebuah jet tempur baru . Pesawat F-22 Raptor buatan Lockheed Martin dirancang sejak kontrak untuk prototipe pertama ditandatangani pada tahun 1986. Saat itu komputer Apple Macintosh baru memiliki memori sebesar 1 MB tanpa hard drive. Pesawat F-22 mulai melakukan misi tempur pertama pada 22 September 2014, tiga hari setelah Apple merilis  iPhone 6, telpon selular dengan kemampuan komputasi dan memori ribuan kali lebih cepat dari Apple generasi pertama.

Perancang pesawat tempur modern lebih melihat bagaimana tuntutan operasi dikaitkan perkembangan teknologi tiga-empat dasa warsa ke depan. Jet yang paling modern seperti Lockheed F – 35 Lightning II misalnya, memiliki fitur-fitu yang sangat modern, helmet mounted displays, voice activated controls, dan tongkat (stick) kendali di samping penerbang. Ini adalah perubahan besar dari kokpit penuh dengan instrument analog dan tombol pesawat tempur buatan masa lalu.

Namun, inovasi ini tidak hanya karena ingin tampil modern. Alasan kokpit telah berubah karena penerbang masa kini  melakukan pekerjaan yang berbeda dengan yang terbang 20 atau 30 tahun yang lalu. Dengan kemajuan aerodinamis dan otomatisasi, urusan menerbangkan pesawat ini hampir menjadi isu sekunder, karena peran penerbang bergeser lebih ke manajemen misi dan kemampuan membuat keputusan dalam situasi kritis.

Kemampuan mendapatkan informasi yang memadai dan akurat untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat adalah dengan bantuan teknologi. Tehnologi  harus mampu membantu penerbang melakukan berbagai tugas pada saat bersamaan.

Penerbang tempur masa dituntut mampu secara bersamaan melacak sebuah pesawat tak dikenal, mengamati tampilan video langsung dari situasi operasi permukaan di bawahnya, dan saat bersamaan berkomunikasi dengan pusat kendali operasi di pangkalan atau pesawat pengendali operasi. Mereka sudah tidak boleh disibukkan lagi dengan harus memeriksa instrumen penerbangan terlalu sering untuk mengetahui apakah pesawat mereka menunjuk ke arah yang benar dan berapa banyak bahan bakar yang tersisa.

Penerbang tidak terlalu banyak melihat ke dalam, tapi sudah melihat keluar dan mengumpulkan informasi yang tampak di depannya, baik secara langsung atau lewat sensor.

Perancang Jet tempur modern telah mengantisipasi kebutuhan ini. Tidakada lagi instrumen navigasi atau status sistem muncul di kokpit jet modern. Sebaliknya, semua informasi ditampilkan pada tiga atau empat layar monitor penuh warna, pada HUD (head up display – layar transparan di depan penerbang yang menampilkan teks dan simbol ), dan pada HMD (helmet mounted display) di mana simbol dan teks ditampilkan di visor (kaca mata) pelindung pada crash helmet penerbang.

HMD dirancang untuk mengatasi kelemahan pada HUD yang mengharuskan penerbang harus selalu menatap lurus ke depan untuk melihat informasi yang diproyeksikan di atasnya. Kamera dalam kokpit melacak puluhan sensor di helmet, sehingga komputer selalu tahu ke arah mana pilot menoleh dan secara bersamaan  informasi diproyeksikan ke visor.

Pesawat F-35 saat ini sama sekali tidak memiliki instrumen analog, karena semua informasi yang akan ditampilkan pada HUD, serta video yang diambil dari kamera sensor di bagian luar pesawat ditampilkan dalam visor helmet. Hal ini memungkinkan penerbang untuk “melihat” melalui badan pesawat dan bahkan untuk melihat tanah di bawah melalui kamera di lantai kokpit.

Kendali pesawat tradisional juga telah hilang. Desain fly-by-wire yang dimulai dengan pesawat F-16 ini sekarang menjadi sistem yang wajib dimiliki semua pesawat tempur modern. Tidak ada kabel mekanik yang menghubungkan kontrol untuk kemudi atau flaps, kendali yang mirip ”joy stick” game komputer ini  diprogram untuk mengubah getaran dan beban sehingga  memungkinkan penerbang untuk merasakan perubahan penerbangan pesawat .

Saat ini perancang kokpit pesawat tempur masa depan bahkan melihat kemungkinan untuk mengambil ide-ide yang lebih lanjut. Apa pun yang memungkinkan penerbang untuk sepenuhnya menyadari apa yang terjadi di sekitar mereka tanpa harus sering memeriksa informasi dalam kokpit. Kokpit seperti inilah yang disebut “Virtual Cockpit” di mana sensor akan melihat eye tracking (pelacakan mata), gesture control (kontrol gerakan), neuro control (kontrol syaraf), realitas tambahan (augmented reality), kemudian sesuatu sosok seperti “avatar” di mana komputer bisa berbicara yang membantu penerbang di kokpit  dalam pengambilan keputusan atau malah membantu dalam penerbangan.

Pesawat F-35 menawarkan petunjuk terbaik saat ini seperti apa kokpit pesawat tempur masa depan dibuat. Dalam perkembangan yang lain,pesawat tempur tak berawak, memberikan tingkat yang lebih tinggi lagi dalam hal kelincahan dan efisiensi pertempuran udara di mana langit benar-benar tidak menjadi batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *